Kotamobagu,Tintamas.id – Pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia di Kotamobagu menuai sorotan tajam dari internal organisasi. Kegiatan yang seharusnya menjadi forum resmi pengambilan keputusan tersebut justru memunculkan polemik, setelah sejumlah pengurus mengaku tidak mengetahui adanya pelaksanaan Konfercab.
Salah satu pengurus, Fienry Astrid Barends selaku Wakil Ketua Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi, secara tegas menyatakan ketidaktahuannya terkait agenda tersebut. “Saya sebagai pengurus juga tidak tahu konfercab ini sama sekali,” ungkapnya pada Rabu, 15 April 2026.
Polemik ini semakin menguat setelah Penasehat GAMKI Kotamobagu, Oske Sajow, turut menyampaikan keprihatinannya. Ia menilai, sebagai organisasi kader yang berakar dari gereja, GAMKI seharusnya mampu merangkul seluruh elemen pemuda lintas denominasi.
“Sejatinya kepengurusannya dari berbagai pemuda lintas gereja di Kota Kotamobagu, wajib merangkul semua elemen pemuda gereja,” tegasnya.
Ia bahkan mempertanyakan proses pelaksanaan Konfercab tersebut. “Ini kan aneh bin ajaib, mau dibawa kemana organisasi ini sebenarnya,” tambahnya.
Oske juga meminta DPD GAMKI Sulawesi Utara untuk meninjau kembali hasil Konfercab yang baru saja dilaksanakan. Menurutnya, ketidaktahuan sejumlah pengurus inti seperti wakil ketua, sekretaris, dan bendahara menjadi indikasi kuat adanya persoalan dalam proses tersebut.
“Kami berharap DPD GAMKI Sulawesi Utara dapat merangkul seluruh potensi kader di Kotamobagu agar organisasi ini bisa berjalan solid dan memberikan manfaat nyata bagi pemuda gereja dan masyarakat,” ujarnya.
Dalam tata kelola organisasi, Konfercab merupakan forum strategis yang wajib dilaksanakan sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Aturan ini mengikat seluruh proses, mulai dari mekanisme pelaksanaan, penentuan peserta, hingga keabsahan hasil sidang. Jika tahapan tersebut diabaikan, maka hasil Konfercab berpotensi dianggap cacat prosedur dan tidak sah secara organisasi.
Situasi ini menjadi sensitif mengingat GAMKI merupakan organisasi kader yang menghimpun pemuda lintas gereja, mulai dari Protestan, Pantekosta, Advent hingga Katolik. Setiap anggota seharusnya memiliki legitimasi melalui mandat resmi dari organisasi atau gereja masing-masing.
Sebagai wadah berhimpun pemuda Kristen, GAMKI memiliki peran strategis dalam membangun kolaborasi lintas gereja serta berkontribusi dalam isu-isu sosial, keagamaan, dan kebangsaan. Nilai keterbukaan, kebersamaan, dan toleransi menjadi fondasi utama organisasi.
Namun, pelaksanaan Konfercab yang diduga tidak transparan dinilai bertentangan dengan semangat tersebut. Alih-alih memperkuat solidaritas, kondisi ini berpotensi memicu konflik internal dan merusak kepercayaan antaranggota.
Karena itu, kepatuhan terhadap AD/ART menjadi kunci utama agar Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia tetap menjadi rumah bersama bagi pemuda lintas gereja di tanah Totabuan serta mampu menjalankan perannya secara optimal di tengah masyarakat. (David)
